Ahad, 3 April 2011

TANDA-TANDA MENDAPAT HIDAYAH



1. Merasakan kemudahan dalam beramal soleh.

Orang yang telah mendapatkan hidayah akan merasa mudah atau ringan dalam melaksanakan amal soleh, rajin dan tekun dalam beribadah, serta sangat takut berbuat kedurhakaan. Sementara orang yang tidak mendapatkan hidayah-Nya akan merasa malas dalam beramal soleh dan tidak merasa bersalah kalau berbuat maksiat.
Allah SWT. berfirman, “Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk mendapat petunjuk, nescaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, nescaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS Al-Anam 6: 125)

2. Merasakan kerinduan kepada Allah SWT.

Orang yang mendapatkan hidayah, setiap relung hatinya terisi dengan kerinduan kepada Allah swt. Jika nama Allah swt. disebut, akan bergetar hatinya, Kalau dibacakan firman-Nya, akan bertambah imannya; ia bertawakal, mendirikan shalat, dan mengeluarkan zakat sebagai ekspresi syukur atas nikmat yang diterimanya.


Firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. Orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa darjat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia.” (QS Al-Anfal 8: 2-4)

3. Konsisten atau Istiqamah.

Orang yang mendapatkan hidayah akan istiqamah atau konsisten dalam menjalankan perintah-perintah-Nya. Ia akan merasa nikmat saat beribadah kepada-Nya. Hal ini dijelaskan dalam ayat berikut,
Firman Allah SWT bermaksud, “Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS Ali-Imran 3: 101).
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah suka apabila seorang hamba mengerjakan suatu pekerjaan dan dia konsisten melakukannya.” (H.R. Baihaqi)

Ketaatan mereka dalam memegang ajaran agama diumpamakan dalam ayat berikut.
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (la Ilaha Illallah) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim 14: 24-25)

4. Bersemangat dalam mempelajari ajaran agama.

Orang yang mendapatkan hidayah akan memiliki semangat untuk selalu menelaah ajaran-ajaran Allah. Islam itu agama yang harus difahami, bukan sekadar diyakini.

Rasulullah saw bersabda, ”Apabila Allah akan memberikan kebaikan pada seseorang, Dia faqihkan orang tersebut dalam agama.”

Yang dimaksud dengan Dia faqihkan orang tersebut dalam agama yaitu orang tersebut bersemangat untuk menelaah ajaran-ajaran Islam.

5. Sabar menghadapi berbagai ujian.

Allah swt. memberikan kehidupan kepada manusia sebagai ujian. Siapakah di antara hamba-Nya yang paling baik amalnya. Kehidupan dunia merupakan ladang amal.
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al Mulk 67: 2)

Orang-orang yang mendapatkan hidayah akan tahan menghadapi berbagai ujian kehidupan, sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.’ Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-Baqarah 2:155-157)

Pada akhir ayat di atas tertulis dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Ini merupakan pengunci ayat yang menegaskan bahawa orang-orang yang bersabar adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk atau hidayah-Nya.






6 WASIAT SAIDINA UMAR AL-KHATTAB



Suatu hari Umar Bin Khattab r.a. bertutur kepada sebahagian sahabatnya;

Aku berwasiat kepadamu enam perkara :

1. Jika engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau mahu mencacinya, maka cacilah dirimu. Kerana, celamu lebih banyak darinya.

2. Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah dahulu perutmu. Kerana, tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.

3. Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah ALLAH s.w.t.! Kerana, tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain DIA.

4.Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab, andaikata engkau meninggalkannya, bererti engkau terpuji.

5. Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Kerana, jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi penuh penyesalan.

6. Bilamana engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah Akhirat. Kerana, engkau tak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.”






Beramal Baik Namun Masuk Neraka



Nukilan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berikut memberikan kita pelajaran agar tidak berlaku ujub. Sifat ujub membuat amalan yang kita lakukan seakan-akan sirna. Akibat itu, neraka pun yang bisa jadi ancaman. Sehingga beramal baik pun selamanya tidak berujung baik. Bisa jadi ujungnya adalah seperti ini karena rasa ujub dalam diri.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Sebagian ulama salaf, di antaranya Sa’id bin Jubair berkata,

إنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَيَدْخُلُ بِهَا النَّارَ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ السَّيِّئَةَ فَيَدْخُلُ بِهَا الْجَنَّةَ يَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَيُعْجَبُ بِهَا وَيَفْتَخِرُ بِهَا حَتَّى تُدْخِلَهُ النَّارَ وَيَعْمَلُ السَّيِّئَةَ فَلَا يَزَالُ خَوْفُهُ مِنْهَا وَتَوْبَتُهُ مِنْهَا حَتَّى تُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ

Sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal kebaikan malah ia masuk neraka. Sebaliknya ada pula yang beramal kejelekan malah ia masuk surga. Yang beramal kebaikan tersebut, ia merasa ujub (bangga dengan amalnya), lantas ia pun berbangga diri, itulah yang mengakibatkan ia masuk neraka. Ada pula yang beramal kejelekan, namun ia senantiasa takut (akan adzab Allah) dan ia iringi dengan taubat, itulah yang membuatnya masuk surga.



Sumber: Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa', 10/294








Orang-orang bukan Islam biasanya bertanya di mana Tuhan orang-orang Islam?Adakah soalan ini relevan untuk dijawab atau adakah ia perlu diabaikan kerana ia bukan urusan kita sebagai makhluk?

Sebenarnya, persoalan ini pernah ditanyakan sendiri oleh Rasulullah S.A.W kepada seorang hamba wanita kepunyaan Mu`awiyah bin Al-Hakam As-Sulamiy. Maka Nabi berkata kepadanya: "Di mana Allah?". Dia (wanita itu) berkata, “Di langit”. Dia (Nabi) berkata: "Siapa saya?". Dia (wanita itu) berkata, “Kamu ialah Rasulullah”. Dia (Nabi) berkata: "Bebaskanlah dia, maka sesungguhnya dia adalah wanita yang beriman". [Muslim/ 537]

Dalam hadis ini, Nabi sendiri yang bertanya soalan “Di mana Allah?”, justeru adalah tidak wajar jika ada pihak yang menghalang soalan ini daripada ditanya. Berkenaan dengan jawaban kepada soalan tersebut, Nabi tidak menegur atau membantah jawaban hamba wanita itu, sekali gus memberikan pengakuan atau iqrar bahawa jawabannya adalah benar dan dia adalah seorang wanita yang beriman.Justeru, Allah berada di langit! Dalam Al-Qur’an juga disebut:"Adakah kamu aman daripada Dia (Allah) yang di langit? Bahawa Dia akan membenamkan bumi bersama kamu, maka ketika itu ia bergerak?" [Al-Mulk: 16]Justeru, ayat ini dengan jelas menunjukkan bahawa Allah berada di langit.Hal ini turut disokong oleh kata-kata Nabi berikut:"Orang-orang yang penyayang, mereka disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah yang di dunia, akan menyayangi kamu Dia yang di langit". [At-Tirmizi/ 1924, sahih]Nabi juga pernah berkata:"Tidakkah kamu mempercayaï saya? Sedangkan saya adalah Amin (yang dipercayaï) oleh Dia yang di langit. Perkhabaran langit mendatangi saya ketika pagi dan ketika petang". [Al-Bukhary/ 4351]

Dalam Al-Qur’an pula disebut:"Ar-Rahman, di atas `Arasy Dia bersemayam" [Taha: 5] Justeru, dalam ayat ini dijelaskan bahawa Allah yang bersifat Ar-Rahman bersemayam di atas `Arasy. Jadi, Allah berada di atas `Arasy sedang bersemayam!Dalam satu hadis sahih dijelaskan bahawa Nabi berkata:"Sesungguhnya Allah telah menulis satu penulisan sebelum Dia menciptakan kejadian “Sesungguhnya rahmat Saya mendahuluï murka Saya”. Maka ia tertulis di sisi-Nya di atas `Arasy". [Al-Bukhary/ 7554]Dalam Sahih Muslim pula dijelaskan bahawa Bani Tamim mendatangi Nabi pada suatu hari dan mereka berkata:Mereka berkata, “Kami telah sampai, kami mendatangi kamu untuk kami memahami dalam hal agama, dan untuk kami bertanya kepada kamu tentang permulaan perkara ini, apakah ia?” Dia (Nabi) berkata: "Ia adalah Allah, dan tiada sesuatu pun sebelumnya. Dan `Arasy-Nya di atas air. Kemudian Dia telah mencipta angkasaraya dan bumi, dan Dia telah menulis dalam Az-Zikr tentang segala sesuatu". [Muslim/ 7418] Hadis ini menerangkan bahawa `Arasy Allah berada di atas air. Justeru, Allah berada di langit, sedang bersemayam di atas `Arasy yang berada di atas air.Juga hadis berikut:"Tuhan kita – tabaraka wata`ala - turun setiap malam ke langit dunia ketika masih tinggal satu pertiga malam yang akhir, Dia berkata: "Sesiapa yang memanggil Saya, maka Saya akan menjawabnya, sesiapa yang meminta kepada Saya, maka Saya akan berikannya, sesiapa minta ampun kepada Saya, maka Saya akan mengampuninya" .[Al-Bukhary/ 1145] Hadis ini menjelaskan bahawa Allah turun ke langit dunia, dan Dia turun dari satu tempat yang sudah tentunya lebih tinggi! – iaitu `Arasy.Justeru, hadis ini menafikan bahawa kata-kata sesetengah orang bahawa ‘Allah berada di mana-mana’ kerana ia adalah fahaman Wahdatu l-Wujud yang sesat.Maka ketika anda ditanya, di mana Allah?. Maka katakanlah:"Allah itu berada di atas langit, bersemayam di atas arasy."

Jika mereka membantah, maka katakanlah:"Sesungguhnya kami beriman dengan sifat Allah sepertimana yang ALLAH SIFATKAN DIRINYA SENDIRI di dalam Al-Quran dan Al-Hadis. Bahkan, kami TIDAK MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK."MOHON DISEBARKAN.Wallahualam...






Kaya Hati, Itulah Kaya Senyatanya...


Orang kaya pastikah selalu merasa cukup? Belum tentu. Betapa banyak orang kaya namun masih merasa kekurangan. Hatinya tidak merasa puas dengan apa yang diberi Sang Pemberi Rizki. Ia masih terus mencari-cari apa yang belum ia raih. Hatinya masih terasa hampa karena ada saja yang belum ia raih.

Coba kita perhatikan nasehat suri tauladan kita. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzarradhiyallahu ‘anhu berkata,

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits inishahih sesuai syarat Muslim)

Inilah nasehat dari suri tauladan kita. Nasehat ini sungguh berharga. Dari sini seorang insan bisa menerungkan bahwa banyaknya harta dan kemewahan dunia bukanlah jalan untuk meraih kebahagiaan senyatanya. Orang kaya selalu merasa kurang puas. Jika diberi selembah gunung berupa emas, ia pun masih mencari lembah yang kedua, ketiga dan seterusnya. Oleh karena itu, kekayaan senyatanya adalah hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Itulah yang namanya qona’ah. Itulah yang disebut dengan ghoni (kaya) yang sebenarnya.



Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Hakikat kekayaan sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta. Karena begitu banyak orang yang diluaskan rizki berupa harta oleh Allah, namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberi. Orang seperti ini selalu berusaha keras untuk menambah dan terus menambah harta. Ia pun tidak peduli dari manakah harta tersebut ia peroleh. Orang semacam inilah yang seakan-akan begitu fakir karena usaha kerasnya untuk terus menerus memuaskan dirinya dengan harta. Perlu dikencamkan baik-baik bawa hakikat kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati (hati yang selalughoni, selalu merasa cukup). Orang yang kaya hati inilah yang selalu merasa cukup dengan apa yang diberi, selalu merasa qona’ah (puas) dengan yang diperoleh dan selalu ridho atas ketentuan Allah. Orang semacam ini tidak begitu tamak untuk menambah harta dan ia tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk terus menambahnya. Kondisi orang semacam inilah yang disebut ghoni (yaitu kaya yang sebenarnya).”



Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menerangkan pula, “Orang yang disifati dengan kaya hati adalah orang yang selaluqona’ah (merasa puas) dengan rizki yang Allah beri. Ia tidak begitu tamak untuk menambahnya tanpa ada kebutuhan. Ia pun tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk mencarinya. Ia tidak meminta-minta dengan bersumpah untuk menambah hartanya. Bahkan yang terjadi padanya ialah ia selalu ridho dengan pembagian Allah yang Maha Adil padanya. Orang inilah yang seakan-akan kaya selamanya.



Sedangkan orang yang disifati dengan miskin hati adalah kebalikan dari orang pertama tadi. Orang seperti ini tidak pernahqona’ah (merasa pus) terhadap apa yang diberi. Bahkan ia terus berusaha kerus untuk menambah dan terus menambah dengan cara apa pun (entah cara halal maupun haram). Jika ia tidak menggapai apa yang ia cari, ia pun merasa amat sedih. Dialah seakan-akan orang yang fakir, yang miskin harta karena ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah diberi. Oran inilah orang yang tidak kaya pada hakikatnya.

Intinya, orang yang kaya hati berawal dari sikap selalu ridho dan menerima segala ketentuan Allah Ta’ala. Ia tahu bahwa apa yang Allah beri, itulah yang terbaik dan akan senatiasa terus ada. Sikap inilah yang membuatnya enggan untuk menambah apa yang ia cari.”



Perkataan yang amat bagus diungkapkan oleh para ulama:

غِنَى النَّفْس مَا يَكْفِيك مِنْ سَدّ حَاجَة فَإِنْ زَادَ شَيْئًا عَادَ ذَاكَ الْغِنَى فَقْرًا

“Kaya hati adalah merasa cukup pada segala yang engkau butuh. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), namun malah fakir (miskinnya hati).”[1]



An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Kaya yang terpuji adalah kaya hati, hati yang selalu merasa puas dan tidak tamak dalam mencari kemewahan dunia. Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus ingin menambah dan terus menambah. Karena barangsiapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah, ia tentu tidak pernah merasa puas. Sebenarnya ia bukanlah orang yang kaya hati.”[2]



Namun bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

“Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits inishahih)

Dari sini bukan berarti kita tercela untuk kaya harta, namun yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa yang Allah beri. Padahal sungguh beruntung orang yang punya sifat qona’ah. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)



Sifat qona’ah dan selalu merasa cukup itulah yang selalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minta pada Allah dalam do’anya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أنَّ النبيَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina).” (HR. Muslim no. 2721). An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.”[3]

Saudaraku ... milikilah sifat qona’ah, kaya hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri.

Semoga Allah menganugerahkan kita sekalian sifat yang mulia ini.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.



copypaste:http://rumaysho.com/belajar-islam/manajemen-qolbu/3045-kaya-hati-itulah-kaya-senyatanya.html






Jumaat, 1 April 2011

sahabat sejati...

Firman Allah SWT dalam surah al-Hujurat ayat 13, yang bermaksud:
''Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan berpuak-puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu sama lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang lebih bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam PengetahuanNya.”

“Sebaik baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik baik jiran disisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap jirannya.” (H.R al-Hakim)

"Persahabatan itu adalah tanggungjawaban yang manis, bukannya peluang."- Khalil Gibran

"Sukarnya untuk temui sahabat, yang banyak ditemui hanyalah kawan-kawan...persahabatan adalah kebutuhan jiwa, tempat mengadu dan bercerita suka dan duka, sedang kawan hanyalah teman ketawa bergurau senda..dan bila terluka, selalu tinggalkan kita sendirian.."












kita adalah kita...



"Maaf, aku tidak setanding berdiri denganmu, aku tidak setaraf untuk duduk disisimu, aku tidak secantik dan seanggun sepertimu, dimata ramai orang aku ini tiada apa istimewanya, lebih banyak kurang dari lebih, lebih tiada dari ada... aku hadir hanya mengisi ruang bukan kerana mencari peluang tapi membuka ruang..ruang bersama menghayati erti makna "hidup"..."

















belajar, belajar dan terus belajar..


Orang yang cerdik belajar dari kesilapan dirinya sendiri, manakala orang yang bijaksana belajar dari kesilapan orang lain..





















sesungguhnya..........


Syaqiq bin ibrahim berkata:
"Benteng amal itu ada tiga :

  1. Harus merasa bahawa itu hidayat dan taufiq dari ALLAH untuk mematahkan rasa ujub(sombong diri)
  2. Harus niat untuk mendapat redha ALLAH untuk mematahkan hawa nafsu
  3. Harus mengharap pahala dari ALLAH untuk menghilangkan rasa tamak, rakus dan riya'
Muhammad bin Abil-Ward berkata :
"Kebinasaan manusia terjadi dalam dua hal :

  • Mengejarkan yang sunat dan mengabaikan yang wajib.
  • Dan dalam amal perbuatan hanya mementingkan bahagian lahir/luar dan mengabaikan bahagian hati (iaitu niat dan keikhlasan beramal)
Al Khawwash berkata :
"Terputus nya makhluk dari ALLAH kerana dua hal :
  • Mengejar amal-amal sunat dan meninggalkan yang wajib
  • dan memperbaiki lahirnya amal tetapi tidak memperhatikan keikhlasan beramal sedangkan ALLAH tetap tidak menerima amal perbuatan kecuali jika ikhlas dan tepat menurut  tuntunan syariat.



"Ya ALLAH, berilah aku kekuatan, berilah aku petunjuk dan cahaya Mu, bimbingilah hati dan jiwaku ke taman-taman syurgamu..."







jangan marah...


Abu Hurairah RA pernah berkata, 
“Seorang pemuda datang lalu berkata, “Wahai Rasulullah, berwasiatlah kepadaku!” 
Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Jangan marah!” Pemuda tadi belum puas lalu mengulang apa yang dikatakan kepada Rasulullah SAW beberapa kali namun Rasulullah SAW tetap memberi sabda yang sama, “Jangan marah!”" 
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari.